Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Kopeng, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, seorang petani muda membuktikan bahwa pertanian organik bisa menjadi jalan hidup yang menguntungkan dan membanggakan.
Namanya Shofyan Adi Cahyono, pendiri komunitas Sayur Organik Merbabu (SOM), yang kini menjadi pemasok berbagai sayuran organik berkualitas ke pasar modern, restoran, dan pelanggan individu di seluruh Pulau Jawa.
Kisahnya adalah perpaduan antara idealisme menjaga lingkungan dan strategi bisnis yang matang.
Awal Mula Perjalanan
Shofyan tidak langsung terjun ke pertanian organik. Awalnya ia mengikuti jejak banyak petani lain di Kopeng yang mengandalkan pupuk dan pestisida kimia untuk mengejar hasil panen cepat.
Namun, ia melihat sisi lain dari praktik tersebut: tanah mulai kehilangan kesuburannya, biaya produksi meningkat, dan hasil panen sering terancam oleh fluktuasi harga input.
Kesadaran itu membawanya mempelajari metode pertanian organik, termasuk penggunaan pupuk hayati dan pupuk organik cair (POC) buatan sendiri.
Shofyan mulai bereksperimen di lahan kecil, memproduksi sayuran tanpa bahan kimia sintetis. Respons pasar positif membuatnya yakin untuk beralih sepenuhnya.
Teknologi Pupuk Hayati dan POC
Salah satu kunci keberhasilan SOM adalah pemanfaatan pupuk hayati yang mengandung mikroba bermanfaat, seperti Rhizobium, Trichoderma, dan Azospirillum. Mikroba ini berperan:
- Mengikat nitrogen dari udara
- Menguraikan bahan organik menjadi nutrisi siap serap
- Melindungi akar dari penyakit tanah
Shofyan juga memproduksi POC berbahan limbah ikan, sayuran busuk, dan tanaman berprotein tinggi seperti lamtoro.
POC ini disemprotkan secara rutin setiap 10–14 hari untuk menjaga pertumbuhan optimal.
Greenhouse dan Irigasi Tetes
Untuk menjaga kualitas dan kuantitas produksi, SOM memanfaatkan greenhouse sederhana berbahan rangka besi ringan dan plastik UV. Greenhouse melindungi tanaman dari hujan berlebihan, serangan hama, dan suhu ekstrem.
Irigasi tetes (drip irrigation) diterapkan untuk efisiensi penggunaan air dan distribusi pupuk organik cair langsung ke akar tanaman. Hasilnya, pemakaian air berkurang hingga 40%, sementara pertumbuhan tanaman lebih seragam.
Pemasaran Modern dan Jaringan Komunitas
Shofyan memahami bahwa pertanian organik bukan hanya soal produksi, tetapi juga pemasaran. Ia memanfaatkan media sosial, marketplace, dan jaringan restoran untuk memasarkan produk SOM.
Setiap kemasan sayur dilengkapi label jelas berisi informasi proses organik, tanggal panen, dan manfaat produk. Transparansi ini meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Selain menjual produk, SOM juga membuka pelatihan untuk petani muda dan pelaku UMKM di sektor pertanian. Pesertanya tidak hanya dari Kopeng, tetapi juga dari daerah lain di Jawa dan Kalimantan.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Keberadaan SOM membawa dampak nyata:
- Menyerap tenaga kerja lokal, terutama anak muda desa
- Meningkatkan pendapatan petani mitra
- Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi produk organik
Kini, SOM memproduksi lebih dari 50 jenis sayuran organik, mulai dari bayam merah, pakcoy, selada, hingga kale, dengan kapasitas panen yang stabil sepanjang tahun.
Pelajaran dari Shofyan
Kisah Shofyan membuktikan bahwa pertanian organik dapat menjadi bisnis yang menguntungkan jika dikelola dengan inovasi dan strategi pemasaran yang tepat. Kunci suksesnya ada pada:
- Konsistensi menjaga kualitas produk
- Pemanfaatan teknologi sederhana untuk efisiensi
- Pemasaran kreatif dan transparan
- Pemberdayaan komunitas sebagai kekuatan bersama
Kesimpulan
Shofyan Adi Cahyono dan komunitas SOM menjadi inspirasi bagi petani muda di seluruh Indonesia. Dengan perpaduan teknologi pupuk hayati, manajemen modern, dan semangat berbagi ilmu, ia membuktikan bahwa bertani organik bisa menjadi pilihan hidup yang bermakna dan menguntungkan.
Bagi Anda yang ingin memulai, pesan dari Kopeng jelas: jangan takut berinovasi, bangun jaringan, dan jadikan kualitas sebagai pondasi usaha!





