Inovasi Petani Desa Salassae: Kembalikan Kesuburan Tanah dengan Kompos Mikroorganisme

BGN Agripreneur

BGN agripreneur pupuk organik mustika tani

Di tengah tren pertanian modern yang masih banyak bergantung pada pupuk dan pestisida kimia, Desa Salassae di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tampil berbeda. 

Desa ini dikenal sebagai pelopor pertanian organik di wilayahnya.

Rahasianya sederhana: memanfaatkan kompos mikroorganisme untuk memulihkan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen— tanpa menguras biaya produksi.

Awal Perubahan: Dari Ketergantungan ke Kemandirian

Beberapa tahun lalu, petani Salassae menghadapi masalah klasik: biaya pupuk dan pestisida kimia yang terus naik, tanah yang mulai mengeras, dan hasil panen yang stagnan.

Petani seperti Armin Salassa melihat ini sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian.

Armin mulai mengajak warga beralih ke metode organik. Ia memperkenalkan teknik pembuatan kompos berbasis mikroorganisme lokal (MOL) yang memanfaatkan bahan-bahan di sekitar desa seperti kotoran ternak, jerami, dan dedaunan kering.

Hasilnya luar biasa, hanya dalam dua kali aplikasi, tanah yang semula keras mulai kembali gembur dan subur.

Rahasia Kompos Mikroorganisme Lokal

Pembuatan kompos MOL di Salassae tidak membutuhkan peralatan mahal. Prosesnya meliputi:

  • Bahan utama: kotoran ternak fermentasi, jerami cincang, dan larutan MOL
  • Fermentasi: 2–3 minggu hingga tekstur remah dan tidak berbau menyengat
  • Aplikasi: saat pengolahan lahan dan setelah tanam untuk menjaga kesuburan

MOL ini kaya akan mikroba bermanfaat seperti bakteri pengurai dan fungi, yang membantu proses dekomposisi dan menyediakan nutrisi alami bagi tanaman.

Gerakan Kolektif yang Mengubah Desa

Keunikan Desa Salassae terletak pada semangat gotong royongnya. Petani yang sudah mencoba metode ini wajib mengajarkannya kepada petani lain. 

Tidak ada monopoli ilmu; semua pengetahuan dibagikan secara terbuka.

Mereka bahkan rutin mengadakan hari produksi kompos massal. Bahan baku dikumpulkan bersama, proses dikerjakan bergiliran, dan hasilnya dibagi sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan cara ini, biaya produksi bisa ditekan hingga 40% per musim tanam.

Dampak pada Produksi dan Ekonomi

Perubahan ini memberikan hasil nyata:

  • Tanah menjadi lebih gembur dan kaya bahan organik
  • Tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit
  • Hasil panen stabil bahkan di musim kemarau
  • Produk organik Salassae mendapat harga jual lebih tinggi di pasar

Kini, beras dan sayuran organik dari Salassae dipasarkan ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan, dengan reputasi sebagai produk sehat dan bebas residu kimia.

Inspirasi untuk Wilayah Lain

Kisah Salassae menjadi bukti bahwa pertanian organik tidak harus rumit atau mahal. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan kekuatan komunitas, desa kecil pun bisa menjadi pusat inovasi pertanian berkelanjutan.

Banyak desa kini mengundang perwakilan petani Salassae untuk berbagi pengalaman, berharap dapat meniru keberhasilan ini di daerah mereka masing-masing.

Kesimpulan

Pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan tanah, lingkungan, dan generasi mendatang. 

Desa Salassae telah menunjukkan bahwa teknologi sederhana seperti kompos mikroorganisme lokal, jika dikelola dengan semangat kebersamaan, mampu mengubah masa depan pertanian.

Bagi Anda yang ingin memulai pertanian organik, pelajaran dari Salassae jelas: mulailah dari tanah, manfaatkan sumber daya sekitar, dan bangun gerakan bersama.

Bagikan:

BGN Agripreneur

Komunitas para pengusaha pertanian Nusantara yang mendorong kemajuan, kesejahteraan, dan kepedulian sosial untuk masa depan masyarakat yang berkelanjutan.

Baca Juga